Langsung ke konten utama

Amangkurat I


Oleh : M. Firdaus Ramadhani
           Cristina Anggasari
           Norma Afrizatul Jannah



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang

Berdirinya keraton Mataram erat kaitannya dengan perjalanan sejarah keraton Pajang. Pada tahun 1568, Jaka Tingkir naik tahta di kerajaan Pajang dan bergelar Sultan Hadiwijaya. Kedudukan Sultan Hadiwijaya direstui oleh Sunan Giri yang merupakan seorang wali sekaligus penasihat politik Jawa bagianTimur. Sultan Hadiwijaya yang arif bijaksana segera mendapat pengakuan dari adipati di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur, sedangkan salah seorang anak Sultan Prawata (Raja Demak yang ke-4) yaitu Arya Pangiri diangkat menjadi Adipati Demak.
Kelahiran kerajaan Mataram juga tidak dapat dipisahkan dari seorang tokoh Ki Ageng Pemanahan dan dianggap sebagai seorang yang berhasil oleh Sultan Hadiwijaya (Penguasa kerajaan Pajang) dalam mengalahkan Arya Penangsang melalu tangan anaknya Danang Sutawijaya. Sultan Hadiwijaya berusaha menegakkan kekuasaan Pajang dengan menyelamatkan Demak dari kericu.
Bagi masyarakat jawa khususnya di daerah Yogakarta, Surakarta, dan sekitarnya nama Mataram tentu sangat melekat di hati. Yogyakarta dan Surakarta merupakan dua wilayah yang sangat kental dengan nuansa dan budaya keraton ( kerajaan). wilayah ini pernah menjadi pusat dari sebuah kerajaan besar Islam pada abad ke-16 yang hampir menguasai seluruh Jawa. Kerajaan besar itu bernama Mataram Islam. Kata islam digunakan untuk membedakan kerajaan ini dengan kerajaan yang lain pada abad ke-8 yakni kerajaan mataram. Karena Mataram di abad ke-16 bercorak Islam, sehingga menggunakan sebutan mataram Islam sedangkan Mataram pada abad ke-8 menggunakan kata Mataram kuno.
 Kerajaan Mataram Islam sendiri pada awalnya berdiri pada abad ke-16, ki Ageng Pemanahan merupakan pendiri Mataram di kota Gede dengan raja pertamanya yaitu Danang Sutawijaya atau yang biasa disebut Panembahan Senopati, ia menjadi peletak dasar Kesultanan Mataram.Kemudian kekuasaan jatuh ditangan Sultan Anyakrawati yang nerupakan anak dari Sutawijaya. Namun Kerajaan Mataram Islam mencapai masa kejayaannya pada masa sultan ketiga, yakni Sultan Agung Hanyokrokusumo. Dikatakan masa keemasan atau masa kejayaan karena pada masa Sultan Agung inilah, kekuasaan Mataram meluas mencakup Pulau Jawa (kecuali Banten dan Batavia), Pulau Madura, dan daerah Sukadana di Kalimantan Barat. Bahkan, Blambangan yang pada masa Panembahan Senopati tidak bisa ditaklukkan, berhasil ditaklukkan.
Kesultanan mataram islam atau mataram baru merupakan penyebutan dari para sejarawan atas kerajaan yang didirikan oleh raden bagus ( penambahan senopati). Mataram berdiri pada tahun 1587 – 1677 dan melahirkan 5 raja : Raden Bagus ( 1587 – 1601), raden mas Jolang (1601 – 1613), Raden Mas Wuryah ( 1613), Raden Mas Rangsang (1613- 1645), Raden Mas Sayidin (1645-1677).[1]
Kekuasaan Mataram pernah dipegang oleh Raden Mas Jolang dengan gelar Sri Susuhan Adi Prabu Hanyakrawati Senapati ing Ngalaga Mataram (1601-1613).[2] Kegagalan terjadi dengan wafatnya panembahan Seda Krapyak pada ahun 1912 yang kemudian dimakamkan di Kota Gede. Jasa Panembahan Seda Krapyak terkihat dalam bidang kebudayaan yaitu berusaha untuk menyusun sejarah negeri Demak dan penulisan beberapa kitab suluk Wijil tahun 1607 dan serat Nitisruti 1612.[3]
Pemerintahan  sebeum Sultan Agung yaitu Raden Mas Wuryah atau dikenal dengan sebutan Adipati Martapura. Dia merupakan kakak beda ibu tetapi umurnya terpaut jauh lebih muda dari Sultan Agung. Raden Mas Wuryah memiliki gangguan sehingga ia hanya menjabat sebentar saja tak kurang dari sehari. Hal ini dilakukan karena Sultan Anyakrawati ingin memenuhi janjinya kepada sang istri.
Raden Mas Rangsang atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung merupakan putra ketiga dari pangeran Purbaya yang merupakan pendiri awal kerajaan mataram. Pada saat kerajaan Mataram dipimpin oleh Panembahan Senapati, cita-cita Panembahan Senapati sangat luhur yaitu hendak mengangkat Mataram sebagai penguasa tertinggi di Jawa menggantikan Pajang. Guna mewujudkan cita-cita, Panembahan Senapati mengambil langkah untuk memerdekakan diri dari Pajang dan memperluas wilayah Mataram ke seluruh Jawa. Panembahan Senapati mampu memperluas wilayah kekuasaan kerajaan Mataram mulai dari Pajang, Demak, Pati, Madiun, dan Pasuruan.
Dari kebesaran kerajaan mataram pada masa sultan agung, kerajaan Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di nusantara. Masa pemerintahan Sultan Agung merupakan masa keemasan bagi kerajaan Mataram dimana kerajaan menjadi gemah ripah loh jinawi (tentram, makmur, serta tanahnya sangat subur) apalagi ditunjang dari segi ekspansi dan cita- cita sultan Agung yang ingin mempersatukan seluruh Nusantara.
1.2  Rumusan Masalah

1.2.1.   Apa saja kebijakan Sultan Agung terhadap bidang politik pada masa pemerintahannya?
1.2.2.   Apa saja kebijakan Sultan Agung terhadap Ekonomi pada masa pemerintahannya?
1.2.3.   Bagaimana dampak adanya politik Ekspansi bagi kerajaan Mataram?

1.3  Tujuan
1.3.1 Agar dapat mengetahui kebijakan Sultan Agung dibidang politik
1.3.2 Agar mengetahi kebijakan Sultan Agung dibidang ekonomi
1.3.3 Agar dapat mengetahui dampak- dampak yang terjadi pada masa pemerintahan Sultan 
    Agung.

1.4  Manfaat
Makalah ini bertujuan untuk mmeberikan informasi mengenai kebijakan yang dilakukan oleh Sultan Agung dalam segi politik dan ekonomi beserta dampaknya pada tahun 1613-1645.




BAB II
ISI

2.1. kebijakan Sultan Agung terhadap bidang politik
Kemajuan politik yang dicapai adalah menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan menyerang Belanda di Batavia.Sultan Agung berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.  Usaha ini dimulai dengan menguasai Gresik, Jaratan, Pamekasan, Sumenep, Sampang, Pasuruhan, kemudian Surabaya. Salah satu usahanya mempersatukan kerajaan Islam di Pulau Jawa ini ada yang dilakukan dengan ikatan perkawinan. Sultan Agung mengambil menantu Bupati Surabaya Pangeran Pekik dijodohkan dengan putrinya yaitu Ratu Wandansari.Sultan Agung adalah raja yang sangat benci terhadap penjajah Belanda. Hal ini terbukti dengan dua kali menyerang Belanda ke Batavia, yaitu yang pertama tahun 1628 dan yang kedua 1629

2.1.1. Latar Belakang Politik Ekspansi Sultan Agung.
    Dinamika pasang surut dalam suatu kekuasaan atau tahta merupakan hal biasa.Suatu kekuasaan atau pun pemerintahan dalam rezim akan mengalami tumbuh, berkembang, puncak kejayaan dan kemunduran, hingga akhirnya mengalami kehancuran.
    Raja pertama adalah Sutawijaya yang bergelar Ngabehi Loring Pasar kelak ketika naik  tahta Mataram dia bergelar Panembahan Senapati (1575- 1601) adalah putra Ki Ageng Pemanahan.[4] Pada saat kerajaan Mataram dipimpin oleh Panembahan Senapati, cita-cita Panembahan Senapati sangat luhur yaitu hendak mengangkat Mataram sebagai penguasa tertinggi di Jawa menggantikan Pajang. Guna mewujudkan cita-cita, Panembahan Senapati mengambil langkah untuk memerdekakan diri dari Pajang dan memperluas wilayah Mataram ke seluruh Jawa. Panembahan Senapati mampu memperluas wilayah kekuasaan kerajaan Mataram mulai dari Pajang, Demak, Pati, Madiun, dan Pasuruan.
       Pada saat Kerajaan Mataram dibawah pemerintahan Panembahan Senapati, Mataram dikatakan telah berhasil memulihkan keunggulan daerah pedalaman yang artinya mampu mempersatukan kembali wilayah Kerajaan Kuno Mataram dan Kediri, akan tetapi tidaklama setelah itu Demak tunduk juga kepada Mataram.[5] Pemerintahan Panembahan Senapati merupakan masa awal kebangkitan, sedangkan masa puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Agung (cucu Panembahan Senapati).
       Semasa pemerintahan Panembahan Seda Ing krapyak (Ayah Sultan Agung), wilayah kekuasaan Mataram tidak mengalami perkembangan, tetapi lebih menyempurnakan pembangunan kota yang dikenal Kota Gede yang termasuk Taman Danalaya, Kolam, dan kimpleks pemakaman kota Gede.[6] Pemerintahan Panembahan Seda Ing Krapyak ditunjang dengan upaya mempertahankan daerah taklukan yang diwariskan dari Panembahan Senapati (ayah Raden Mas Jolang) karena pada saat pergantian raja, daerah bawahan kerajaan mulai memberontak dan melepaskan diri. Pada masa pemerintahan Sultan Agung terhadap beberapa daerah yang semula sudah berada di bawah Mataram akan tetapi melepaskan diri, sehingga Sultan Agung berusaha mempertahankan wilayah kekuasaan Panembahan Senapati (kakek Sultan Agung) dengan melakukan penyerangan bahkan Sultan Agung berambisi untuk memperluas kekuasaan kerajaan Mataram.[7]
     Setelah naik tahta Sultan Agung bergelar Panembahan Agung Senopati ing Alaga Ngabdurachman.[8]Sultan Agung mempunyai ambisi untuk memulihkan kesatuan politik dan ingin menguasai Tuban, Surabaya, dan Pasuruan agar menjadi pada serta mengislamkan daerah taklukan. Pemerintahan Sultan gung ditandai dengan ekspedisi dan ekspansi untuk memenuhi ambisi. Pada saat menjadi raja, Sultan Agung segera mengikuti jejak Panembahan Senapati (kakek Sultan Agung) dan Panembahan Seda Ing Krapyak (ayah Sultan Agung) dengan melakukan penyerangan Surabaya, namun dengan cara yang berbeda. Di bawah masa pemerintahan Sultan Agung, wilayah kekuasaan Mataram hampir seluruh pulau Jawa. Hal ini dikarenakan politik ekspansi yang dilakukan oleh Sultan Agung erat kaitannya dengan konsep keagung binantara (kekuasaan raja sebesar kekuasaan dewa) yang dijalankan oleh raja-raja Mataram.
  Sultan Agung menggunakan taktik melakukan penyerangan di berbagai daerah dengan menggunakan tiga cara yaitu dengan menghancurkan musuh dan memusnakan daerah, menyerap harta kekayaan, dan menkombinasikan antara menghancurkan musuh, memusnakan daerah, dan menyerap diplomasi. Hal ini Sultan gunakan ketika melakukan penaklukan di pesisir Pantai utara Pulau Jawa. Penaklukan dengan taktik menghancurkan musuh menyebabkan kerugian pada jatuh korban, menimbulkan kekacauan, dan perekonomian mengalami kerugian. Memusnahkan orang lain tidak dengan tangan sendiri berarti memperluas atau memperbesar kekuasaan pemimpin, tetapi hanya mencerai beraikan kekuasaan lawan. Menghancurkan musuh adalah cara paling kasar untuk menaklukan musuh. Menyerap dalam taktik disebut sebagai diplomasi merupakan cara halus untuk mendapatkan pengakuan keunggulan dan kekuasaan. Penyerapan dalam teori dianggap sebagai tanduknya kerajaan secara sukarela kekuasaan seseorang penguasa yang tertinggi.[9]
     Kepemimpinan kerajaan jawa didasarkan pada wewenang keturunan sehingga lebih ditekankan pada keyakinan bahwa garis keturunan sehingga wewenang yang didasarkan pada keturunan tidak hanya merupakan wewenang yang berdasarkan keturunan tidak hanya wewenang yang kuat tetapi juga wewenang keramat (kharisma) dimana yang dimaksud kharisma ini suatu kompenan kekuasaan yang paling penting. Wewenang seorang raja tidak hanya dari sifat kharisma melaikan juga kemampuan untuk mengerahkan kekuatan fisik dan usaha dalam memberikan sanksi. Kewibawaan seseorang raja/pemimpin tradisional diperoleh dengan berbuat atau bersikap sesuai dengan cita-cita dan keyakinan yang dianut oleh sebagian masyarakat. Raja harus bersikap adil, berhati murah, dan bijaksana. Semua sifat pemimpin merupakan syarat universal bagi pemimpin. Pemimpin kesatuan sosial yang bersifat negara kuno yaitu kharisma, kewibawaan, wewenang, dan kekuasaan dalam arti khusus serta sifat yang menjadi syarat bagi seseorang untuk dapat dipandang sebagai raja atau pemimpin dalam masyarakat.[10]
      Konsep keagung binataraan (kekuasaan raja sebesar kekuasaan dewa) terkandung konsep bahwa besarnya kekuasaan ditandai dengan luas wilayah yang dikuasai. Konsep keagung binataraan mengharuskan kekuasaan sebagai suatau kesatuan yang utuh, dalam kekuasaan tidak ada persaingan, tidak terkotak-kotak atau tidak terbagi-bagi dan bersifat menyeluruh. Konsep keagung binataraan bisa diwujudkan dengan mempersatukan seluruh wilayah pulau jawa dalam satu kesatuan dan untuk mewujudkan dengan cara melaksanakan ekspansi – ekspansi ke seluruh kerajaan di jawa yang belum tunduk terhadap Mataram Konsep keagung binatara pada dasarnya meletakkan dasar kekuasaan yang harus dimaknai dalam dua hal yaitu :
a.         kekuasaan sebagai kemampuan untuk memaksakan kehendak pada orang lain agar orang –orang mau mematuhi apa yang menjadi keinginan.
b.         kekuasaan harus berada dalam bingkai kebaikan maksudnya masyarakat secara sepakat melihat kekuasaan yang dibangun sebagai suatu kebaikan bukan kejahatan kemanusian.[11] Adanya kekuasaan seperti ini menjadikan Sultan Agung memiliki kewenangan mutlak di seluruh kerajaan.
Pada saat konsep keagung Binatara menjadi prinsip kerja Sultan Agung ketika menjadi raja Mataram, maka posisi Sultan Agung menjadi besar di puncak kekuasaan. Sultan Agung dianggap menjadi pemilik sah seluruh wilayah kerajaan Mataram dan berhak untuk menentukan cara merawat, mengelola, membudidayakan, membangun, dan mengembangkan seluruh hal yang berkaitan dengan wilayah kekuasaan. Pandangan konsep keagung binataraan walaupun secara politis menentukan kekuasaan seorang raja begitu besar, namun seluruh kekuasaan harus difokuskan untuk kepentingan rakyat tanpa terkecuali. Kekuasaan dalam konsep keagung binataraan berarti titik dasar bagi usaha membangun kesejahteraan rakyat. Di sisi lain rakyat menjaga amanat raja dalam rangka bersama-sama membangun kesejahteraan hidup.
      Konsep keagung binataraan ini juga menjadi doktrin yang menuntut seorang raja agar giat dalam membangun kerajaan, hal yang diutamakan dalam konsep keagung binatara adalah pengaruh dan bagaimana membangun wibawa di mata kerajaan lain sehingga menimbulkan rasa takut dan segan dalam arti yang positif yaitu agar tunduk dan berprilaku sesuai dengan aturan.[12] Kekuasaan raja yang besar menjadikan Sultan Agung lebih memfokuskan kepentingan seluruh rakyat, sehingga rakyat menjadi tunduk dan harus melaksanakan seluruh kewajiban yang menjadi perintah raja.
     Ekspansi yang dilakukan oleh Sultan Agung menggunakan strategi seimbang yaitu dengan mengarahkan politik ekspansi ke arah timur dan arah barat. Tahun 1613-1625 politik ekspansi yang dijalankan Sultan Agung yang ditujukan ke Jawa Timur dengan diakhiri takluknya Surabaya. Tahun berikutnya 1625-1636 sasaran serban militer ditujukan ke Jawa Barat untuk menghancurkan kota Batavia. Titik puncak ekspansi adalah pada tahun 1628 dan 1629 dan berakhir dengan pengajuan politik damai dari Gubernur Jendral Van Diemen (1636). Tahun 1637-1641 politik ekspansi ditujukan lagi ke Jawa Timur terutama untuk menaklukan Blambangan. Tahun 1641-1645 ekspansi dilanjutkan ke Jawa Barat serta untuk memadamkan pemberontakan di Sumedang dan Ukur juga membangun koloni dan pos pertahanan yang lebih dekat dalam rangla penyerbuan kembali Batavia. Ekspansi ke arah timur merupakan prioritas utama ekspansi Sultan Agung dikarenakan kota-kota pantai Jawa Timur mempunyai kekuatan sosial politik yang mempunyai basis ekonomi untuk menandingi Mataram. Sultan Agung lebih memusatkan ke arah Timur untuk menguasai Surabya dan pemusatan arah barat untuk merebut dan mengusir Belanda ke Batavia.
     Strategi Politik perdagangan Mataram dipusatkan pada perdagangan beras. Fungsi perdagangan luar Jawa untuk pengangkatan hasil rempah-rempah dari Maluku ke Malaka. Produksi beras menjadikan Mataram bisa mengimpor barang kebutuhan yang berasal dari luar negeri seperti kain katun, sutra, porselin, permata dan rotan. Perlengkapan senjata seperti meriam juga dapat dibeli oleh Mataram karena penjualan beras. Peranan perdagangan beras bagi pihak luar dapat dilihat dari usaha Mataram yang selama abad ke-17 menjadi pemasok utama kebutuhan beras bagi daerah lain Indonesia, Portugis di Malaka, dan Belanda di Batavia. Peranan perdagangan beras di mataram dalam menghadapi lawan seperti di Surabaya dan Belanda di Batavia menggunakan beras sebagai senjata akibatnya Belanda harus mendatangkan beras dari India, Siam, dan Jepang.
     Pada saat kerajaan Mataram memegang seluruh monopoli perdagangan beras, maka seluruh daerah wilayah kerajaan harus memasok beras ke Mataram. Pelabuhan yang menjadi ekspor beras adalah Jepara sehingga seluruh wilayah kerajaan hanya boleh mengekspor beras melalu pelabuhan Jepara, penduduk daerah pantai yang bermata pencaharian utamanya pelayaran dan perdagangan mengehndaki daerah yang telah dihuni menjadi merdeka mau mengembangkan mata pencaharian pelayaran. Hal ini ketika penyatuan kerajaan-kerajaan Islam di pesisir Jawa tidak hanya menambah kekuatan politik, tetapi juga kekuatan ekonomi. Dengan demikian ekonomi Mataram tidak semata-mata tergantung ekonomi agraris, tetapi juga karena pelayaran dan perdagangan.[13] Keagrarisan Mataram terlihat dari usaha untuk menigkatkan produksi beras dengan memanfaatkan sungai sebagai irigasi, sedangkan perdagangan Mataram lebih dipusatkan pada perdagangan beras, dan pelayaran dimanfaatkan segabai mata pencaharian penduduk yang bermukim di daerah pantai.
2.1.2.  Praktek Politik Ekspansi Sultan Agung
            Politik Ekspansi Mataram menggunakan strategi menghancurkan kota-kota pesisir sebagai lawan utama.[14]Perang yang dilakukan dalam rangka ekspansi politik dan berlangsung cukup lama. Hal ini mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi kerajaan dan menimbulkan ketegangan politik dalam kerajaan Mataram.[15]Semasa pemerintahan Sultan Agung, Kerajaan Mataram mengalami perluasan wilayah. Praktek politik ekspansi yang dijalankan Sultan Agung di antaranya mampu memperluas wilayah kekuasaan kerajaan di Jawa Timur, Jawa Tengah dan sebagian Jawa Barat. Politik ekspansi dijalankan oleh Sultan Agung begitu keras karena ambisi dari Sultan Agung untuk menguasai seluruh Jawa bahkan Nusantara. Politik ekspansi yang dijalankan Sultan Agung untuk menguasai seluruh Jawa bahkan Nusantara. Politik ekspansi yang dijalankan Sultan Agung dilakukan menjadi dua arah yaitu ke arah timur dan arah barat.

 Ø  Politik Ekspansi ke Arah Timur
Ekspansi di Surabaya
      Pada tahun 1614, Sultan agung mulai melakukan ekspansi wilayah dengan menyerbu Surabaya. Pada mulanya Surabaya juga pernah diserbu Panembahan Senapati (kakek Sultan Agung) namun tidak berhasil sehingga dilanjutkan oleh Sultan Agung. Sultan Agung memberi perintah kepada Tumenggung Suratani untuk melakukan penaklukan di Surabaya. sehingga Sultan Agung mengeluarkan titah kepada Ki Tumenggung bahwa : “barang siapa yang pada peperangan nanti ada prajurit Mataram yang mundur atau melarikan  diri, maka harus ditangkap dan dihukum mati .[16]
       Tumenggung Suratani berangkat bersama pasukan Mataram untuk menyerang Surabaya, Sultan Agung juga memerintah Jaya Supanta untuk menyusul melihat pasukan Mataram serta melarang Tumenggung Suratani untuk tidak menyerang Pasuruhan dikarenakan belum waktunya sehingga cukup dilewati saja. Pada akhirnya dari Mataram, pasukan Tumenggung Suratani bergerak keluar daerah kekuasaan Mataram hingga mencapai batas kota Pasuruan. Pasukan Mataram terus saja bergerak hingga mencapai daerah Winongan, kemudian Tumenggung Suratani memerinta Tumenggung Alap-alap agar menggempur Luamajang dan Renon.
      Tumenggung Alap-alap bergegas menuju Lumajang beserta pasukan Mataram, sesamppai di Lumajang bupati Lumajang sudah melarikan diri pada waktu malam hari dan berlari ke gunung. Rakyat Lumajang juga berlari ke gunung sehingga dikejar oleh Pasukan Mataram dan banyak pula rakyat Lumajang yang tertangkap dan dibunuh . Daerah Lumajang sudah dirusak dan putri Lumajang dibawa pasukan Mataram. Tumenggung Alap-alap kemudian kembali ke daerah Winongan lagi, kemudian Tumenggung Alap-alap kembali menyerbu Renon sehinggga Renon juga diserbu. Aksi penyerangan kedua tempat yaitu Lumajang dan Renon berakhir sukses. Tumenggung Suratani dan pasukan Mataram berangkat untuk menyerbu Malang. Bupati Malang, Rangga Tohjiwa hendak menghadapi pasukan Mataram, akan tetapi pasukan Mataram terlalu banyak daripada pasukan Mataram sehingga pada tengah malam Rangga Tohjiwa lari dan dikejar oleh pasukan Mataram. Malang berhasil ditaklukan dan Tumenggung Suratani serta psukan Mataram berngkat menuju barat daya.
     Pada mulanya Pangeran Surabaya ketika hendak menghadapi pasukan Mataram, Pangeran Surabaya sudah mencari bantuan pada Bupati Lasem, Gresik, Madura, Pasuruhan, Kediri, Tuban dan Lamongan. Para bupati dan pasukan sudah menuju Surabya. Terdapat salah satu bupati dari Madura Raden Panji Pulung Jiwa yang teguh, gagah, perkasa, dan tampan segera memiliki ide untuk mengejar pasukan Mataram. Bala Mataram tahu kalau sedang dikejar kemudian pasukan berhenti ditengah perjalanan lalu berhenti dan berbaris disebelah barat Sungai Andaka. Pasukan Surabya berhenti dan berbaris juga disebelah timur Sungai Andaka, kemudian pasukan Mataram dan pasukan Surabaya berhadapan dan pasukan Mataram banyak yang menenggelamkan diri ke sungai dan pasukan Mataram banyak yang tewas. Tumenggung Suratani dan para bupati hendak segera menolong pasukan yang tenggelam. Tumenggung Suratani tewas sehingga pasukan Mataram mundur dan mencari jenazah Tumenggung Suratani. Pada kahirnya jenazah Tumenggung Suratani berhasil ditemukan dan langsung dibawa pulang ke Mataram.
Pada waktu itu Sungai Andaka ibarat banjir darah. Pada pagi hari, pasukan Mataram bersama menyebrang ke timur untuk mencari tempat yang strategis. Pasukan Mataram berusaha untuk menyerang pasukan Surabaya dan pasukan Surabaya banyak yang tewas sedangkan yang pasukan hidup lari untuk menyelamatkan diri sedangkan Bupati Madura Rangga Panji Pulung Jiwa juga tewas dutengah pertempuran. Pertempuran antaran Mataram-Surabaya, Tumenggung Suratani tewas tangan Panji Pulung Jiwa (menantu Rangga Tohjiwa Bupati Malang), sedangkan Panji Pulung Jiwa sendiri meninggal di tangan Tumenggung Alap-alap.[17]
            Pasukan Mataram tetap terus mengejar pasukan Surabaya yang masih hidup. Pada esok pagi, pasukan Mataram berangkat hendak kembali ke Mataram. Tumenggung Jaya Supanta yang telah diutus Sultan Agung untuk menjadi Pimpinan perang dalam penaklukan, segera mendahului untuk memberi tahu Sultan Agung bahwa Tumenggung Suratani gugur dipertempuran, serta menyampaikan kejadian pasukan Mataram yang baik dan buruk sehingga Sultan Agung sangat haru dan memberi hadiah yang setimpal dan seadil-adilnya.


Ekspansi di Lasem dan Pasuruan
            Tahun 1616, Mataram dapat menguasai Lasem dan Pasuruan. Setengah bulan setelah pasukan Mataram tiba di kerajaan, Sultan agung memberi perintah kepada pasukan untuk menyerang Lasem dan Tumenggung Martalaya sebagai pemimpin. Sultan Agung memerintahkan Tumenggung Martalaya untuk mengikut sertakan pasukan Pati dalam melakukan penyerangan di Lasem dengan jumlah pasukan 3.000 orang. Seluruh daerah Lasem diserang pasukan Mataram tanpa ada perlawanan, senjata dikumpulkan dan penduduk daerah Lasem ditawan sehingga Lasem dengan mudah dikuasai oleh Pasukan Mataram.
            Tahun 1617 Sultan Agung memerintahkan Tumenggung Martalaya kembali untuk melakukan penyerangan ke Pasuruan. Pada mulanya Adipati Lumajang berhubungan baik dengan Pangeran Mandureja (Bupati Mataram) sehingga Sultan Agung mengetahui kabar bahwa Ngabehi Tambakbaya (Menteri Pajang) memiliki kuda besar tinggi, dan bagus, sehingga lebih pantas dipakai oleh Sultan Agung. Pada akhrinya Sultan agung mengutus seorang utusan untuk membeli kuda Ngabehi Tambakhaya. Sesampai utusan Sultan Agung tiba di Pajang dan menyapaikan perintah Sultan Agung kepada Adipati Pajang dan Adipati Pajang memanggil Ngabehi Tambakbaya (Menteri Pajang) serta membawa kuda.
            Sultan Agung memberi perintah kepada pasukan Mataram untuk berkumpul di bagian selatan sedangkan Tumenggung Martalaya sendiri berada di sebelah tenggara. Sultan Agung meminta bantuan Tumenggung Jaya Suponta untuk mengawasi jalannya penyerangan. Pasukan Mataram  mulai menyerang kota, menduduki, bahkan membakar kota sehingga Pasuruan dapat dikuasai dengan mudah oleh pasukan Mataram
Ekspansi di Pajang
            Pada tahun 1617, Mataram kembali menguasai Pajang. Pada penumpasan di Pajang, pasukan Mataram dipimpin oleh Pangeran Mandura Reja, dalam peperangan ini pasukan Pajang banyak yang berguguran. Adipati Pajang dan Tambakbaya (Menteri Pajang) melarikan diri menyebrangi Sungai Semanggi untuk meminta perlindungan ke Surabaya karena Tambakbaya memiliki hubungan baik dengan Surabaya. Hal ini terlihat dari perjodohan anatara Tambakbaya dengan putri dari Raden Jaya Langkara yang bernama Raden Ayu. Di Pajang Sultan Agung menghancurkan daerah-daerah terpenting akan tetapi di sekitar Pajang terdapat hutan yang diberi nama hutan Wana Karta yang kemudian hutan Wana Karta ditebang untuk dijadikan pemukiman dan persawahan.
            Pada saat Pajang berhasil dikalahkan, Sultan Agung memberi perintah dua pemimpin pasukan Tumenggung Martalaya dan pasukan Tumenggung Jaya Supanta untuk menyerang. Pasukan Mataram terlebih dahulu singgah di Pati, Pragola dan ketika pasukan tiba di kota, rakyat Tuban melarikan diri ke Ibukota.
Ekspansi di Tuban
            Pada awalnya Sultan Agung adipati sudah mengetahui jika akan ada penyerangan dari pasukan Mataram sehingga Adipati Tuban meminta bantuan dari Surabaya dan Madura. Adipati Surabaya hanya memberi bantuan berupa senjata dan pasukan sebanyak 1.000 orang dan Madura memberi pasukan sebanyak 2.000 orang. Usaha perebutan Tuban dapat berjalan dengan lancar pasukan Mataram lebih banyak daripada pasukan Tuban, sehingga dengan mudah Tuban takluk dalam kekuasaan Mataram tahun 1619.
            Pada tahun 1620, atas perintah Sultan Agung prajurit kembali menumpas Surabaya dengan mengepung kota Suarabaya secara periodik. Pada mulanya dengan membendung Sungai Mas dengan tujuan menghentikan suplai air, namum strategi yang dilakukan Sultan Agung tidak berhasil dan Surabaya memiliki posisi yang sangat kuat dibidang ekonomi dan politik. Hal ini menjadikan Mataram berusaha untuk menguasai Surabaya. Mataram mengerahkan pasukan sekitar 80.000 orang. Pasukan Mataram berusaha untuk dapat menguasai Surabaya.
Pasukan Mataram menggunakan teknik pengeringan Sungai Mas dan anak Sungai Brantas akibtanya sumur dalam kota mengalami kekeringan dan terjangkitlah berbagai penyakit yang menular. Tanggal 1 Mei 1625 Surabaya menyerah meskipun pasukan Mataram sendiri juga kehilangan banyak korban sebanyak 40.000 orang.[18]

Ekspansi di Sukadana
            Tahun 1622 Sultan Agung memberi perintah kepada Tumenggung Bahureksa (Bupati Kendal) untuk menaklukkan Sukadana. Ekspidisi ke Sukadana terjadi hingga dua kali. Penyerangan pertama terdiri dari 70 perahu yang berisi 200 orang. Pada 6 Mei 1622 dilakukan kembail penyerangan yang terdiri dari 100 kapal perang buatan Sultan Agung yang dirancang dengan persenjataan bahan peledak dan panah api dengan 2000 prajurit dan penyerangan dilakukan pada malam hari. Disaat matahari terbit, pasukan Mataram berhasil menduduki Sukadana dan 800-900 orang yang kebanyakan wanita dan anak-anak ditahan oleh pasukan Mataram dan dibawa kembali ke kerajaan beserta beberapa intan yang simpan di dalam guci loji-loji para pejabat Sukadana. Ekspedisi di Sukadana lebih bersifat sebagai pendaratan dan perampasan saja. Atas kemenangan Tumenggung Bahureksa dari Kendal yang menaklukan Sukadana, Sultan Agung memberikan salah satu ratu dari Sukadana sebagai penghargaan.
            Pada 1624 raja Banten menolak dengan kasar untuk mengirimkan duta kepada Gubernur Jenderal Belanda di Batavia, dengan begitu Banten tetap menjadi pusat perdagangan yang penting sementara Mataram tetap menjadi kerajaan pertanian yang murni. Tidak lama kemudian produk pertanian wilayah Mataram secara ekonomis menjadi sama pentingnya dengan rempah-rempah akan menjadi berkurang jika Mataram dan Makassar berhenti mengekspor beras ke Maluku atau ke pemukiman Belanda. Ambisi Sultan Agung ingin menguasai Banten dan Blambangan, akan tetapi Mataram begitu gigih ingin memperluas wilayah hingga ujung timur Jawa (Blambangan). Mataram juga sangat berambisi untuk menguasai Banten meskipun harus melewati Batavia terlebih dahulu yang pada waktu diduduki oleh VOC.[19]
Ekspansi di Madura
            Tahun 1624 Sultan Agung menaklukan pulau Madura. Pada sebelumnya Pangeran Madura sudah mendengar berita kalau akan diserang oleh Mataram sehingga Pangeran Madura meminta bantuan Pangeran Sumenep, Pangeran Pamekasan, Balega, Pekacangan, dan Pangeran Surabaya dengan berkumpul di Madura dengan menata barisan di pinggir pesisir. Pasukan Mataram sudah diserbu oleh pasukan Madura dimulai dari bagian barat meskipun berusaha bertahan dengan gigih melakukan penyerangan dari Bangkalan, Arosbaya, Balega, Sampang, dan Pakacangan dapat diduduki oleh Mataram. Pada pagi hari pasukan Mataram menuju daratan untuk mencari tempat strategis untuk berlindung di benteng pinggir pesisir. Beberapa pasukan kembali ke kerajaan untuk memberi tahu Sultan Agung bahwa pasukan dari Mataram terdesak bahkan Ki Adipati Sujanapura gugur.
            Sultan Agung segera meminta bantuan Panembahan Juru Kiting sambil memberi syarat berupa nasi dan disuruh maka sekepalan tangan, agar selamat dalam perang. Pasukan Mataram semangatnya bangkit dan segera memberi isyarat untuk berperang. Pasukan Madura berusaha menghadang akan tetapi pasukan Mataram terlalu bersemangat sehingga pasukan Madura banyak jatuh korban dan terdesak. Pangeran Pamekasan dan Pangeran Sumenep tewas di medan perang. Penyerangan ke Madura Sultan Agung berhasil menundukkan Raja Sampang (Raja Madura Barat) sebagai tuan tanah atas seluruh Madura. Pangeran Madura takluk serta membawa 1000 orang tawanan, sedangkan pasukan Madura lainnya lari. Pasukan Mataram kemudian kembali ke Mataram dengan membawa Pangeran Madura untuk dihaturkan kepada Sultan Agung. Sultan Agung sangat belas kasihan kepada Pangeran Madura, kemudia Pangeran Madura dijadikan wedana di Pulau Madura.
            Pada akhirnya Surabaya kehilangan salah satu pangkalan di luar daerah, sedangkan daerah lain seperti Landak dan Banjarmasin juga terancam jatuh ke tangan Mataram. Sukadan dan Madura berhasil ditaklukan oleh Mataram, maka posisi Surabaya menjadi lemah dikarenakan suplai pangan dari Sukadan dan Madura terputus total sehingga di Surabaya terkena bencana kelaparan. Pada waktu Surabaya di bawah pimpinan Pangeran Jayalengkara akhirnya menyerah pada Mataram yang pada waktu itu pasukan dari Mataram dipimpin oleh Tumenggung Mangun Oneng.[20]

l  Dari uraian di atas dapat dijelaskan lagi bahwa politik ekspansi Sultan Agung ke arah timur dimulai dari tahun 1613-1625 dengan menaklukan wilayah Surabaya, Pajang, Lasem, Pasuruan, Sukadana, Lumajang dan Madura. Tahun 1615 menaklukan Wirasaba, tahun 1616 menaklukan Lasem dan Pasuruan, tahun 1617 Pasuruan kembali diserang dan kemudian dilanjutkan dengan menguasai Pajang.[21] Tahun 1620 Surabaya kembali dikepung oleh pasukan Mataram, dan tahun 1624 menaklukan Madura. Upaya dalam ekspansi ke daerah Surabaya tidak hanya dilakukan penyerangan satu kali melainkan hingga dua kali penyerangan baru mengalami keberhasilan.
Ø  Politik Ekspansi ke Arah Barat
            Pada 1625 pusat perdagangan di Surabaya yang pada waktu itu makmur harus tunduk pada Mataram, sehingga raja Cirebon mengakui kedaulatan Sultan Agung dan tetap menjadi pengikut Sultan Agung meskipun Sultan Agung mengajukan berbagai tuntutan kepada raja Cirebon. Berhasilnya Surabaya ditaklukan, Sultan Agung berkeinginan menundukkan Banten, akan tetapi sebelum Banten ditundukkan, Sultan Agung harus menyingkirkan VOC yang dianggap sebagai batu perintang dan karena Banten adalah saingan Mataram  di ujung barat pulau Jawa.
            Penyerangan pertama tahun 1628 terdiri dari dua angkatan. Angkatan pertama dibawah pimpinan tumenggung Bahureksa sedangkan angkatan kedua dibawah pimpinan Tumenggung Sura Agul-agul yang dibantu oleh Tumenggung Mandurareja dan Tummenggung Upasanta. Awalnya Sultan Agung menawarkan perdamaian terhaddap VOC akan tetapi mereka menolak sehingga dilakukan perang. Jumlah pasukan Mataram sebanyak 10.000 orang
            Serangan kedua pada bulan Juni 1629 Sultan Agung mengirimkan pasukan mataram II dibawah pimpinan Adipatih Juminah dengan membawa pasukan sebanyak 14.000 orang. Selama 10 hari melakukan penyerangan terhadap VOC pada akhir bulan September 1629, pasukan mataram banyak jatuh korban dan mengalami kegagalan dalam penyerangan ke Batavia untuk kedua kalinya.[22]
            Penyebab kegagalan Mataram dalam penyerangan ke Batavia :
1.      Jarak yang terlalu jauh, karena prajurit harus berjalan kaki selama satu bulan
2.      Kurangnya bahan makanan
3.      Kalah dalam system persenjataan
4.      Banyak dari prajurit mataram yang terjangkit penyakit
5.      Tidak adanya kerja sama antara Sultan Agung dengan Banten
6.      System koordinasi yang kurang baik anatara angkatan laut dengan angkatan darat, sehingga penyerangan melalui jalur laut lebih diketahui terlebih dahulu oleh VOC.[23]

 l  Politik ekspansi yang dijalankan Sultan Agung dari tahun 1614-1629 wilayah kekuasaan mencapai Surabaya, Wirasaba, Lasem, Winongan, Renon, Lumajang Pasuruan, Tuban, Pajang sukadana, Madura dan Batavia. Strategi perang yang dijalankan Sultan Agung guna melancarkan politik ekspansi ke Batavia dengan cara memperhitungkan musim.[24] hal ini dilakukan karena arus laut dari Maluku ke malaka mempunyai arti penting bagi gerak angkatan laut, transportasi logistic kearah barat (Batavia), salah satu alas an mataram tidak menyeranng pada musim hujan yaitu karena serangan mataram ke Batavia memerlukan kesatuan gerak ke barat oleh angkatan laut dan angkatan darat bersama-sama

2.2. Kebijakan Sultan Agung Terhadap Bidang Ekonomi.
Sebelum masa pemerintahan Sultan Agung, penertiban dan penggiatan pajak belum dilakukan dengan baik. Padahal,pajak adalah sebuah instrumen utama dalam kebijakan ekonomi dalam rangka menjamin pertumbuhan ekonomi dan stabilitas negara, dengan meratakan atau mengalihkan sumber pribadi untuk kepentingan umum.Ketika Sultan Agung berkuasa, perekonomian melalui sektor pajak saat itu sangat mempengaruhi situasi perpolitikan Mataram. Meningkatnya aktivitas militer menyebabkan bertambahnya kebutuhan kerajaan untuk membiayai militer dalam rangka penaklukan untuk memperluas wilayah kekuasaan atau menghadapi pemberontakan sebagai upaya menjaga integrasi.

Ekonomi yang ada di dalam naungannya agar tercipta pengelolaan yang baik. Bentuk kebijakan tersebut berupa kebijakan di sektor riil dan non-rii.
Kebijakan riil meliputi; (1) kebijkan fiskal, yaitu suatu instrument manajemen pemerintah yang berusaha mempengaruhi tingkat aktifitas ekonomi melalui pengendalian pajak dan pengeluaran pemerintah, (2) kebijakan moneter, yaitu suatu instrumen kebijakan ekonomi makro yang mengatur penawaran uang, kredit, dan tingkat bunga dalam rangka mengendalikan tingkat pembelanjaanatau pengeluaran dalam perekonomian, dan (3) kebijakanpembangunan, yaitu proses dan upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencapai peningkatan kualitas hidup masyarakat. Adapun kebijakan non riil meliputi regulasi dan sistem ekonomi.Kebijakan fiskal dikeluarkan oleh Sultan Agung untuk mengatur masalah perpajakan yang berkaitan dengan pemasukan dan pengeluaran negara. Kemudian dilengkapi dengan kebijakan moneter yaitu membentuk lembaga keuangan di dalam negara. Sedangkan sebagai bentuk usaha dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, maka dikeluarkanlah kebijakan.
pembangunan dengan bentuk peningkatan kegiatan ekonomi dalam sektor pertanian karena kondisi wilayah di pedalaman yang bercirikan agraris, maupun melalui perdagangan dengan memanfaatkan luasnya wilayah kekuasaan yang meliputi daerah pesisir. Berdasarkan teori yang dipakai, penulis mencoba menganalisa tentang kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Sultan Agung dan pengaruhnya terhadap perkembangan berbagai bidang kehidupan di Kerajaan Mataram Islam.
Kemajuan dalam bidang ekonomi lainnya yaitu meliputi hal-hal berikut:
  1. Sebagai negara agraris, Mataram mampu meningkatkan produksi beras dengan memanfaatkan beberapa sungai di Jawa sebagai irigasi. Mataram juga mengadakan pemindahan penduduk (transmigrasi) dari daerah kering ke daerah yang subur dengan irigasi yang baik. Berkat usaha tersebut Mataram banyak mengekspor beras ke Malaka.
  2. Penyatuan kerajaan-kerajaan Islam di pesisir Jawa tidak hanya menambah kekuatan politik saja, tetapi juga kekuatan ekonomi. Dengan demikian ekonomi Mataram tidak semata-mata tergantung ekonomi agraris, tetapi juga karena pelayaran dan perdagangan.


2.3. Dampak Adanya Politik Ekspansi Bagi Kerajaan Mataram
            Dampak politik Ekspansi yang dijalankan Sultan Agung tidak hanya terlihat dari puncak kejayaan, kerajaan dapat disegani oleh kerajaan lain, melainkan juga dapat terlihat dari segi politik, ekonomi dan sosial budaya.
Ø  Dampak Segi Politik Bagi Kerajaan Mataram
            Adanya politik ekspansi di Kerajaan Mataram yang dijalankan Sultan Agung menjadikan wilayah Kerajaan Mataram semakin bertambah yakni meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagain Jawa Barat. Wilayah Timur yang tunduk terhadap Kerajaan Mataram antara lain Madiun, Kediri, Malang, Renong, Lumajang, Wirasaba, Pati, Pajang, Pasuruan, Lasem, Tuban, Gresik, Sukadana, Madura (Bangkalan, Arosbaya, Balega, Sampang, dan Pakacangan), dan Surabaya. Wilayah Barat yang dapat dikuasai adalah Banten, akan tetapi Batavia tidak bisa dikuasai oleh Mataram. Wilayah ujung timur yang menjadi daerah kekuasaan Mataram adalah Blambangan.[25] Pada akhirnya ekspansi ke arah timur dapat dikatakan berhasil sedangkan ekspansi ke arah barat mengalami ketidak berhasilan. Proses pengislaman di daerah taklukan banyak mengalami keberhasilan namun tepat pengislaman di Blambangan tidak berhasil.
            Dampak adanya kekalahan penyerangan pasukan Mataram melawan VOC menyebabkan daerah bawaha Mataram perlahan-lahan mulai berani memberontak untuk merdeka dan mengundurkan diri. Diawali dengan pemberontakan para ulama Tembayat yang berhasil ditumpas pada tahun 1630, kemudian Sumedang dan Ukur memberontak tahun 1631. Tahun 1632 Sultan Cirebon masih setia dengan memadamkan pemebrontakan Sumedang.
            Pemberontakan-pemberontakan masih berlanjut dengan munculnya pemberontakan Giri Kedaton yang tidakmau tunduk kepada Mataram, karena pasukan Mataram segan menyerbu pasukan Giri Kedaton yang dianggap sebagai keturunan Sunan Giri, maka yang ditugasi melakukan penumpasan adalah Pangeran Pekik pemimpin Ampel. Pangeran Pekik sendiri telah dinikahkan dengan Ratu Pandansari (adik Sultan Agung) pada tahun 1633. Pemebrontakan Giri Kedaton berhasil dipadamkan oleh pasangan suami istri (Pangeran Pekik dan Ratu Pandan Sari) pada tahun 1636.[26]
            Kemajuan politik yang dicapai Sultan Agung adalah menyatukan kerjaan-kerajaan Islam di Jawa, kecuali Blambangan dan menyerang Belanda di Batavia. Usaha menyatukan kerajaan dimulai dengan menguasai Gresik, Jaratan, Pamekasan, Sumenep, Sampnag, Pasuruhan, kemudian Surabaya. Beberapa kerajaan yang ada di tanah Jawa mengakui diri sebagai wilayah taklukan Mataram. Pada saat Mataram diperintah oleh Sultan Agung, nama Kerajaan Mataram semakin terkenal di tanah Jawa, hampir semua wilayah yang ada di tanah Jawa tunduk dan patuh di bawah kekuasaan Mataram.
Ø  Dampak Segi Ekonomi bagi Kerajaan Mataram
            Dampak adanya kegiatan politik ekspansi kerajaan Mataram menjadikanperekonomian kerajaan mengalami kerugian secara besar-besaran, hal ini dikarenakan besarnya biaya untuk kegiatan perang, persediaan logistik pasukan, dan biaya kerugian perang, pasca kegagalan penyerangan pertama di Batavia dan perlawanan melawan VOC, Sultan Agung merancang strategi guna memperkuat keadaaan ekonomi dengan menghimpun kembali kekuatan dan mengumpulkan perbekalan khususnya lumbung beras di Tegal dan Cirebon. Uasah Mataram untuk meningkatkan produksi beras dengan cara memanfaatkan bebrapa sungai di Jawa sebagai irigasi.[27]
Pada akhirnya Sultan Agung lebih menekankan sistem pertanian sebagai ekonomi kerajaan. Mataram juga mengadakan pemindahan penduduk (transmigrasi) ke daerah Karawang karena memiliki irigasi yang baik. Selain itu dengan meningkatkan ekonomi dalam sektor pertanian karena kondisi wilayah dari Mataram sendiri yang sifatnya agraris. Oleh karena itu, dampak adanya politik ekspansi bidang ekonomi mulai stabil dan mengalami kenaikan


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

            Kesultanan ketiga kerajaan Mataram yaitu Raden Mas Rangsang atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Agung pada tahun 1613- 1645, setelah naik tahta bergelar Panembahan Agung Senopati ing Alaga  Ngabdurachman. Sultan Agung merupakan putra dari Sultan Anyakrawati .Sultan Agung melakukan kebijakan di bidang politik dan ekonom, Kunci dari pertahanan kerajaan Mataram aspek Ekonomi, jika ekonomi baik maka Politik juga akan baik.
             Dibidang politik Mataram melakukan Ekspansi ke berbagai wilayah khususnya di Jawa. Melakukan ekspansi melalui arah Timur dan Barat,seperti: Surabaya, Lasen, Pasuruan, Pajang, Sukadana, Madura, Cirebon, dan Batavia. Hal ini dilakukan untuk menstabilkan perekonomian kerajaan Mataram pada masa Sultan Agung. Di kerajaan mataram, pertanian merupakan sumber ekonomi dimana penguasa sangat berpengaruh baik dalam bidang kesejahteraan maupun politik.
            Latar belakang politik ekspansi yang dilakukan Sultan Agung tak lain karena ambisinya untuk memuihkan kesatuan politik dengan ingin menguasai Tuban, Surabaya, serta pasuruan agar menjadi padu dan mengislamkan daerah yang telah ditaklukkan. Oleh karena itu masa kejayaan kerajaan mataram berada pada masa Sultan Agung.
Sultan Agung menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa dan menyerang Belanda di Batavia.Sultan Agung berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.  Usaha ini dimulai dengan menguasai Gresik, Jaratan, Pamekasan, Sumenep, Sampang, Pasuruhan, kemudian Surabaya.
Dibidang Ekonomi,Kerajaan Mataram merupakan wilayah Agraris sehingga sumber pendapatan Negara banyak didapatkan dari sektor pertanian ini, mayoritas mata pencaharian masyarakat Mataram yaitu seorang petani. Pada masa Sultan Agung berkuasa, perekonomian dengan sektor pajak diterapkan dan ini sangat mempengaruhi aspek politik yang ada di Mataram
           Setiap masa pemerintahan pasti mengalami kendala, kelancaran dan dampak. Begitupula pada masa Sutan agung, ketika Sultan Agung melakukan ekspansi ke wilayah-wilayah ada beberapa dampak  dari adanya ekspansi bagi kerajaan Mataram baik dari segi politik maupun dari segi ekonomi. Dalam segi politik, luas kekuasaan wilayah kerajaan mataram semakin bertambah meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat. Kekalahan penyerangan pasukan Matarammelawan VOC menyebabkan daerah bawahan mataram perlahan mulai berontak dan ingin melepaskan diri dari Mataram. Sedangkan dalam segi ekonomi yaitu ekonomi mataram sempat mengalami kerugian besar-besaran dikarenakan besarnya biaya yang dibutuhkan. Selain itu juga menekankan sistem pertanian sebagai ekonomi kerajaan, melakukan transmigrasi

  
DAFTAR PUSTAKA
Andriana, Nafedian. 2015. Politik Ekspansi Sultan Agung (1613-1645). Jember: Universitas Jember.
Daliman. 2012. Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan- Kerajaan Islam di Indonesia.
Yogyakarta: Ombak.
Haq, Z. 2012.  Nasionalisme Religius Kesultanan Mataram. Bantul: Kreasi Wacana
Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.
Notosusanto, N dan Poesponegoro, M.D. 2008. Sejarah Nasional Indonesia III Zaman
Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islami Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sartono, Kartodirjo. 1999. Pengantar Sejarah Indonesia Baru : 1500-1900. Jakarta: PT 
Gramedia Pustaka Utama.
Siti, Sumardiati. 2013. Pengantar Sejarah Indonesia. Yogyakarta: Cipta Media.
Sri, Wintala. 2016. Sejarah Kerajaan- Kerajaan Besar di Nusantara. Yogyakarta: Araska.
Vlekke, B. 1961. Nusantara : Sejarah Indonesia. Jakarta: PT Gramedia.




                [1]Sri Wintala Achmad, Sejarah Kerajaan-Kerajaan Besar di Nusantara, (Yogyakarta: Araska, 2016), hlm. 221
                [2] Siti Sumardati, Pengantar Sejarah Indonesia, (Cipta Media: Yogyakarta, 2013) , hlm.59
                [3] Haq, Z, Nasionalisme Religius Kasultanan Mataram, (Bantul: Kreasi Wacana, 2012) , hlm. 18
                [4] Siti Sumardati, Pengantar Sejarah Indonesia, (Cipta Media: Yogyakarta, 2013), hlm. 58
                [5] Vlekke, B, Nusanntara: Sejarah Indonesia, ( Jakarta: PT Gramedia, 1961), hlm. 43
                [6] Notosusanto, N & Poesponegoro, M.D, Sejarah Nasional Indonesia III Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2008), hlm. 56
                [7] Daliman, Islamisasi  dan Perkembnagan Kerajaan- Kerajaan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Ombak, 2012), hlm.262
                [8] Siti Sumardati, Pengantar Sejarah Indonesia, (Cipta Media: Yogyakarta, 2013), hlm.60
                [9] Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa, ( Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hlm. 81
                [10]  Koentjaraningrat, Ibid, hlm. 136-137
                [11] Haq, Z, Nasionalisme Religius Kasultanan Mataram, (Bantul: Kreasi Wacana, 2012), hlm. 111
                [12] Haq, Z, Ibid, hlm. 116
                [13] Daliman, Islamisasi  dan Perkembnagan Kerajaan- Kerajaan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Ombak, 2012), hlm.278
                [14] Sartono, Kartodirjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900, (PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 1999), hlm. 123
                [15] Siti Sumardati, Pengantar Sejarah Indonesia, (Cipta Media: Yogyakarta, 2013), hlm. 60
                [16] Haq, Z, Nasionalisme Religius Kasultanan Mataram, (Bantul: Kreasi Wacana, 2012), hlm. 24
                [17] Siti Sumardati,Op.cit, hlm. 24
                [18] Daliman, Islamisasi  dan Perkembnagan Kerajaan- Kerajaan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Ombak, 2012), hlm. 271
                [19] Vlekke, B, Nusanntara: Sejarah Indonesia, ( Jakarta: PT Gramedia, 1961), hal. 145
[20] Daliman, Islamisasi  dan Perkembnagan Kerajaan- Kerajaan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Ombak, 2012), hlm. 271
                [21] Andriana, Nafedian, Politik Ekspansi Sultan Agung (Universitas Jember: Jember, 2015) hlm.58
                [22] Notosusanto, N & Poesponegoro, M.D, Sejarah Nasional Indonesia III Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islamdi Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2008) hlm.381
                [23] Haq, Z, Nasionalisme Religius Kasultanan Mataram (Bantul: Kreasi Wacana, 2012) hlm.93
                [24] Daliman, Islamisasi  dan Perkembnagan Kerajaan- Kerajaan Islam di Indonesia (Yogyakarta. Ombak, 2012) hlm.27

[26] Haq, Z, Nasionalisme Religius Kasultanan Mataram, (Bantul: Kreasi Wacana, 2012), hlm. 36-37
[27] Daliman, Islamisasi  dan Perkembnagan Kerajaan- Kerajaan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Ombak, 2012), hlm. 277

Komentar