Langsung ke konten utama

Review Buku Masyarakat Desa dalam Perubahan Zaman: Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830-1980


Judul Buku: Masyarakat Desa dalam Perubahan Zaman: Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830-1980
Penulis       : Frans Husken
Penerbit     : PT. Grasindo


Buku ini merupakan sebuah kajian hasil penelitian antropologis yang memadukan dengan disiplin ilmu-ilmu social yang lainnya terutama sosiologi dan sejarah. Penulisan buku ini baru dimulai pada tahun 1974 dimana kali pertama Frans Husken mengunjungi Indonesia untuk persiapan penelitian. Namun secara intensif baru dilakukan dari tahun 1975-1978. Salah satu hal yang menarik perhatian peneliti tidak hanya merekam berbagai perubahan yang terjadi di pedesaan Jawa, tetapi juga karena menempatkan penelitiannya dalam perspektif dan kurun waktu setengah abad (1830-1980). Dari aspek sejarah, bagaimana Husken menggambarkan masyarakat Jawa dari berbagai periode. Pada intinya dapat dikatakan setiap periode tersebut terdapat kebijakan ekonomi dan politik yang berbeda sehingga menimbulkan diferensiasi sosial yang dibedakan atas dua kelas yaitu pemilik (tuan tanah) dan petani miskin (tidak punya tanah) melainkan hanya sebagai penggarap dari tanah-tanah tuan tanah. Sekalipun terjadi pergeseran, perubahan struktur sosial, namun gejala tersebut selalu sama setiap periode yang berbeda adalah jumlah dari petani miskin dan kaya tersebut serta terjadinya perubahan status dari kaya menjadi miskin atau dari miskin menjadi kaya. Tetapi pada intinya tidak ada deferensiasi sosial yang mencolok yang menyebabkan timbulnya struktur sosial baru. 
Pengaruh lokal, regional, nasional dan internasional terhadap struktur sosial masyarakat. Kebijakan ekonomi pada masa kolonial, khususnya sebelum tahun 1850, di Kawedanaan Tayu dikembangkan budidaya tebu untuk memasok pabrik gula yang berproduksi guna pasar internasional. Kebijakan ini bukan hanya merupakan kebijakan lokal tapi sudah mempertimbangkan adanya pengaruh internasional dalam kehidupan masyarakat Jawa dalam hal ini diwakili oleh masyarakat kewedanaan Tayu. Kebijakan ini telah merubah arti pentingnya Residensi Jepara. Bersamaan dengan masuknya ekonomi kapitalis timbul gejala komersialisasi yng meluas cepat di pedesaan. Dampak lebih lanjut adalah terjadinya diferensiasi sosial, akibat konversi penggunaan dan konsentrasi penguasan tanah di tangan petani lapisan atas serta pemodal lain. Berangsur-angsur homogenitas masyarakat melemah dan timbulnya pelapisan sosial bahkan melebar kesenjangan antar lapisan sosial tadi. Pada gilirannya perkembangan ini menjadi lahan subur untuk gerakan rakyat serta merangsang perlawanan politik, baik di kalangan umat Islam maupun di lingkungan kaum buruh yang menuntut keadilan sosial. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perkembangan masyarakat dan terbentuknya diferensiasi sosial tidak hanya dipengaruhi oleh aspek lokal melainkan sudah dipengaruhi kebijakan nasional yang berorientasi pada pasar internasional. Pengaruh politik dan ekonomi terhadap diferensiasi sosial 
Dalam melihat diferensiasi sosial, Husken tidak dapat memisahkan diri dari keberadaan faktor-faktor lain terutama politik dan ekonomi.
Krisis ekonomi melanda Indonesia pada bulan Agustus 1997 beberapa juta pekerja di kota terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), mereka kembali ke desa. Kalangan pemerintah menegaskan bahwa tekonologi harus digalkkan untuk menaggulangi krisis di pedesaan. Pemasyarakatan teknologi di bidang agrobisnid dan agroindustri harus segera dilaksanakan. Tetapi, penelitian  tentang proses perubahan sosial di pedesaan Jawa dalam kurun satu setengah abad (1830-1980) menunjukkan bahwa pendekatan teknologi sebagai cara menyelesaikan masalah kemasyarakatan tidak memadai. Bahkan, terlihat pendekatan itu cenderung menimbulkan permasalahan sosial dan ekologi yang besar. 
Contoh dalam masalah ini adalah "Revolusi Hijau". penggunaan Varietas Unggul dan pupuk Biokimia pada tahun 1970-an telah meningkatkan produksi beras sehingga tercapai swasembada pangan pada tahun 1981/1985. Di balik itu, sebenarnya petani kaya saja yang paling diuntungkan lapangan kerja di pedesaan mengalami penurunan drastis sejak tahun 1980-an. Ketegangan sosial timbul, petani kecil dan buruh tani tersingkir dari desa. mereka mencari pekerjaan di sektor industri dan jasa di perkotaan dengan uang yang diperoleh dari kota itu perkembangan ekonomi di pedesaan dibiayai. Kini industri di perkotaan tidak mampu lagi. sementara komersialisasi desa berlangsung akibat pengaruh media massa, sekolah, dan intensifikasi transpotasi. Desa menjadi mirip kota, tidak mudah bagi desa menerima kembali warganya dari kota.
Dari berbagai pembahasan melalui pendekatan sejarah berdasarkan periodesasi sebelum dan sesudah kemerdekaan dapat dikatakan bahwa sebenarnya struktur sosial di pedesaan tidak banyak berubah, elit desa sebagai lapisan atas yang menguasai tanah luas tetap dominan, bahkan jumlah buruh tani tambah banyak, lapisan bawah melebar. Perluasan tanah garapan sudah tidak mungkin tanpa mengancam keadaan dan
keseimbangan ekologi.



Komentar

  1. Mantul sih. Tapi untuk penulisan masih banyak yang salah dan untuk data dapat dilengkapi lagi seperti halnya jumlah buruh tani disebutkan. 🙅

    BalasHapus
  2. sangat menarik sekali reviw nya. jadi bisa mengetahui rekaman dari perubahan Desa di tanah Jawa.

    BalasHapus

Posting Komentar