Langsung ke konten utama
Sejarah Pedesaan

      Pengertian sejarah pedesaan menimbulkan banyak pertanyaan.Sejarah desa masih menarik sejarahwan untuk ditelusuri karena hampir semua peristiwa sejarah berawal atau terjadi didaerah pedesaan. Desa sebagai kesatuan terkecil di Indonesia, memiliki karakter tersendiri. Hal ini disebabkan karena masing-masing wilayah di Indonesia terbentuk melalui proses sejarah panjang dan berbeda-beda. Pembangunan pedesaan adalah upaya peningkatan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa. Karena pembagunan di pedesaan bertujuan untuk mengurangi kemiskinan, maka usaha ini harus dirancang secara jelas dan tegas karena peningkatan produksi dan produktivitas. 
          Masyarakat yang mandiri dapat tercipta dari pembangunan desa. Bukan saja untuk kepentingan masyarakat itu sendiri, namun juga untuk kepentingan nasional secara umum, yang berarti bahwa pembangunan pedesaan mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam meletakan dasar-dasar pembangunan nasional. Dengan keadaan seperti itu maka keberadaan desa baik sebagai lembaga pemerintahan maupun sebagai identitas kesatuan masyarakat hukum adat menjadi sangat penting dan strategis. Sebagai lembaga pemerintahan, desa merupakan ujung tombak pemberian layanan kepada masyarakat. Sedangkan sebagai identitas kesatuan masyarakat hukum, desa merupakan basis sistem kemasyarakatan masyarakat Indonesia yang sangat kokoh sehingga dapat menjadi landasan yang kuat bagi pengembangan sistem politik, ekonomi, sosial-budaya dan bahkan yang stabil dan dinamis.
           Pertama, sejarah pedesaan adalah sejarah dalam arti yang seluas luasnya. History is above all a science of chaange, demikian kata Marc Bloch. Dimensi waktu menjadi sangat penting sebab perubaha ialah sebuah proses dalam waktu. Kronologi masih tetap menjadi ciri pokok dari penelitian sejarah; dengan kata lain, aspek prosesual dari sejarahlah yang membedakannya dari ilmu-ilmu sosial, seperti soaiologi dan antropologi. perubahan berarti perpindahan dari sebuah keadaan menuju ke keadaan yang lain. Keadaan mengandung makna aspek strukural dari sejarah, yang menunjukkan bahwa pada suatu momen tertentu terdapat sejumlah kejadian yang berhubungan secara struktural dan membentuk sebuah keadaan.
           Kedua, sejarah pedesaan ialah sejarah yang secara khusus meneliti tentang desa atau pedesaan, masyarakat petani, dan ekonomi pertanian. Desa sebagai teritorial dan administratif yang terkecil di Indonesia sudah mendapat banyak perhatian dari para peneliti diluar ilmu sejarah. Dengan melihat perubahan dari sudut pandang sejarah, seperti perkembangan demografi, laju proses monetisasi, laju proses proletarianisasi, sejarawan pengamat pedesaan kiranya akan memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai prospek pembangunan pedesaan. Ilmu sejarah atau sejarah pedesaan khususnya, dapat menjadi bagian dari organized intelligence sumber dari perencanaan perubahan-perubahan daerah pedesaan.
        Desa di Indonesia pertama kali ditemukan oleh Mr. Herman Warner Muntinghe, seorang Belanda anggota Raad van Indie pada masa penjajahan kolonial Inggris, yang merupakan pembantu Gubernur Jenderal Inggris yang berkuasa pada tahun 1811 di Indonesia. Dalam sebuah laporannya tertanggal 14 Juli 1817 kepada pemerintahnya disebutkan tentang adanya desa-desa di daerah- daerah pesisir utara Pulau Jawa. Dan dikemudian hari ditemukan juga desa-desa di kepulauan luar Jawa yang kurang lebih sama dengan desa yang ada di Jawa (Soetardjo, 1984:36).
          Terbentuknya suatu desa tidak terlepas dari insting manusia, yang secara naluriah  ingin  hidup  bersama  keluarga  suami/  istri  dan  anak,  serta  sanak familinya, yang kemudian lazimnya memilih suatu tempat kediaman bersama. Tempat kediaman tersebut dapat berupa suatu wilayah dengan berpindah-pindah terutama terjadi pada kawasan tertentu hutan atau areal lahan yang masih memungkinkan   keluarga   tersebut   berpindah-pindah.   Hal   ini   masih   dapat ditemukan pada beberapa suku asli di Sumatera seperti kubu, suku anak dalam, beberapa warga melayu asli, juga di pulau-pulau lainnya di Nusa Tenggara, Kalimantan dan Papua. (sumardjo, 2010).
      Setidaknya ada tiga alasan pokok dari semula orang-orang membentuk masyarakat adalah (Kartohadikoesoemo, 1965): (1) untuk hidup, yaitu mencari makan, pakaian dan perumahan; (2) untuk mempertahankan hidupnya terhadap berbagai ancaman dari luar; dan (3) untuk mencapai kemajuan dalam hidupnya. Desa pertanian merupakan gejala desa pertama-tama dibentuk, setelah membuka hutan dan mengolah lahan untuk ditanami tumbuhan yang menghasilkan makanan dan bahan kebutuhan lainnya. Di tepi laut dan sungai-sungai besar terbentuk desa- desa perikanan dan pelayaran (masyarakat pesisir) yang mendapat pencahariannya dari menangkap ikan, tambak dan jasa pelayaran.
         Desa   merupakan   bentukan   dan   pengembangan   konsep   asli   bangsa Indonesia, meskipun ada kemiripan dengan desa di India yang bernuansa Hindu. Kehidupan masyarakat desa terikat pada nilai-nilai budaya asli yang sudah diwariskan secara turun menurun dan melalui proses adaptasi yang sangat panjang dari interaksi intensif dengan perubahan lingkungan biofisik masyarakat. Kearifan lokal  merupakan  salah  satu  aspek  karakteristik  masyarakat,  yang  terbentuk melalui proses adaptasi yang kondusif bagi kehidupan masyarakat, sehingga nilai- nilai yang terkandung di dalamnya seyogianya dipahami sebagai dasar dalam pembangunan pertanian dan pedesaan (sumardjo,2010).
     Desa mengandung sejumlah kearifan-kearifan lokal (local wisdom) yang apabila dicermati nilai yang terkandung dalam kearifan tersebut maka dapat menjadi suatu kekuatan untuk beradaptasi dengan lingkungan dimana suatu masyarakat berdomisili di suatu wilayah desa. Kearifan tersebut dapat dicermati dari aturan-aturan, norma, tata krama/ tata susila, bahasa, kelembagaan, nama dan gelaran, teknologi yang digunakan (konstruksi rumah, tata letak rumah, teknik irigasi,  teknik  pengolahan  tanah  dan  peralatannya,  teknik  membuat  jalan/ jembatan, teknik perahu dan sebagainya). Sekiranya nilai (value) yang terkandung di dalam aspek-aspek tersebut diperhatikan dalam pengembangan teknologi di era modern ini, meski menggunakan bahan yang mungkin berbeda, maka keserasian lingkungan dan daya adaptasi tampaknya menjadi tetap tinggi.

Daftar Pustaka
Kuntowijoyo, 2003. Metodologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
M. Nur Alamsyah. 2011. Memahami Perkembangan Desa di Indonesia Jurnal ACADEMY Fisip Untad. 03(02): 647.
Dadaswati, Ali Hadara, La Ode Baenawi. 2016. Sejarah Desa Dandila Menjadi Desa Marobea Kecamatan Sawerigadi Kabupaten Muna Barat (1960-2015). HISTORICAL EDUCATION Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah. 1(1): 88-89.

Komentar